Kategori dan Fungsi Sosial Cerita Rakyat


a.        Pengertian Cerita Rakyat
Istilah cerita rakyat menunjuk kepada cerita yang merupakan bagian dari rakyat, yaitu hasil sastra yang termasuk ke dalam cakupan foklor. Cerita rakyat merupakan pernyataan sesuatu budaya kelompok manusia yang mengisahkan berbagai ragam peristiwa yang berkaitan dengan mereka, baik secara langsung atau tidak (Osman, 1991:6). Cerita rakyat adalah suatu bentuk karya sastra lisan yang lahir dan berkembang dari masyarakat tradisional yang disebarkan dalam bentuk relatif tetap dan di antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan menggunakan kata klise (Danandjaja, 2007: 3-4). Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa. Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut.
Menurut Macculoch (dalam Bunanta, 1998:22) cerita rakyat adalah bentuk tertua dari sastra romantik dan imaginatif, fiksi tak tertulis dari manusia masa lampau dan manusia primitif di semua belahan dunia. Cerita rakyat sudah ada sebelum masyarakat sebelum mengenal huruf. Oleh karena itu, cerita rakyat diwariskan secara turun-menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan. Masyarakat biasanya mewariskan segala yang menyangkut dengan hak milik kelompok dilakukan dengan lisan saja. Jarang sekali masyarakat mewariskan budaya dan tradisi kelompok mereka dengan menggunakan tulisan.
Menurut Danandjaja, (2007:2) cerita rakyat merupakan salah satu bentuk (genre) foklor. Foklor itu sendiri adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (memonic device).
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa cerita rakyat merupakan cakupan foklor yang berkembang di masa lalu dan diwariskan secara lisan. Karena diwariskan secara lisan, seringkali ceritanya mendapat variasi atau tambahan. Hal ini sangat tergantung pada kemahiran pencerita/tukang cerita. Dengan demikian, cerita yang sama bisa saja diceritakan dalam versi yang berbeda.

b.    Kategori Cerita Rakyat
Kategori yang dimaksudkan pada pembahasan ini adalah golongan atau jenis cerita rakyat. Dalam pembahasan kategori cerita rakyat, Bascom (dalam Sedyawati, 2004:199; Danandjaja, 2007:50), Pudentia (2008:73), dan Ben-Amos (dalam Endraswara, 2009:106) membagi cerita prosa rakyat menjadi tiga jenis, yaitu; (1) mite, (2) legenda, dan (3) dongeng. Zainuddin dkk. (1987:22-23), menyatakan bahwa dalam sastra lisan Melayu Riau, khususnya jenis prosa terdiri dari tiga jenis, yaitu: (1) sage, (2) mitos, dan (3) fabel. Ketiga jenis cerita rakyat tersebut biasanya relatif singkat. Lain halnya dengan Wundt, mengkategorikan cerita rakyat menjadi tujuh jenis, yaitu: (1) cerita dongeng mitos, (2) cerita pari-pari tulen, (3) cerita-cerita dan dongeng-dongeng tumbuhan, (4) dongeng binatang tulen, (5) cerita asal-usul, (6) cerita-cerita dan dongeng-dongeng jenaka, dan (7) dengong-dongeng moral (Propp, 1987: 6).  
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kategori cerita rakyat terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) mite, (2) legenda, dan (3) dongeng karena sudah mencakup secara keseluruhan dan mudah dipahami. Masing-masing kategori tersebut akan dipaparkan sebagai berikut ini.

1)        Mite
Mite berasal dari bahasa Yunani, mythos, yang berarti cerita tentang dewa dan manusia dianggap pahlawan yang dipuja-puja. Menurut Hutomo (1991:63) menjelaskan “Mite adalah cerita-cerita suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama (religi)”. Mite merupakan cerita yang berhubungan dengan keyakinan masyarakat di mana mite itu ada. Selanjutnya, Bascom (dalam Sedyawati, 2004:199) menjelaskan bahwa mite adalah salah satu jenis cerita rakyat dalam bentuk prosa yang oleh para pewarisnya dipercaya sebagai kejadian yang benar-benar terjadi pada zaman dahulu. 
Mite biasanya dijadikan semacam pedoman untuk ajaran suatu kebijaksanaan bagi manusia. Melalui mite, manusia merasa dirinya turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian, dapat pula merasakan dan menanggapi daya kekuatan alam. Mite muncul karena manusia menyadari ada kekuatan gaib di luar dirinya. Mite juga merupakan media komunikasi manusia dalam beberapa hal tentang kehidupan masyarakat setempat.
Cerita rakyat yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari dapat dan berkembang sesuai dengan kondisi kebiasaan masyarakat pemiliknya. Cerita rakyat dapat digolongkan ke dalam mite apabila memiliki beberapa ciri pada umumnya. Bascom (dalam Danandjaja 2007:51) mengatakan,
“mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Mite juga mengisahkan pertualangan dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya”.

Mite dapat dibagi berdasarkan kategorinya dalam beberapa bagian yaitu dijelaskan Thompson (dalam Danandjaja 2007:54) berdasarkan: (a) creator (penciptaan); (b) gods (para dewa); (c) demigods and culture heroes (para tokoh setengah dewa dan pembawa kebudayaan); (d) cosmogony and cosmologi (kosmogoni dan kosmologi); (e) topograpical feature of the earth (bentuk-bentuk permukaan bumi); (f) world calamities (bencana-bencana di dunia); (g) estabilishment of natural order (terciptanya ketertiban alam); (h) creation and ordering of human life (penciptaan dan penertiban kehidupan manusia); (i) creation and animal life (penciptaan kehidupan binatang); (j) animal characteristics (sifat-sifat khas binatang); (k) origin of trees and plants (asal mula pohon dan tanaman); (l) origin of plant characteristics (asal mula sifat khas tanaman); (m) miscellaneous explanations (berbagai keterangan).
Mite tidak hanya berasal dari kata yang dapat didengar kebenarannya. Namun, mite juga diciptakan melalui benda-benda, ukiran, gerakan tubuh, dan lainnya. Sejalan dengan pendapat itu, Barthes (dalam Pudentia 2008:344) mengatakan bahwa “mite sebagai suatu jenis ujaran (a type of speech). Ujaran yang dimaksudkan dalam ini adalah suatu yang mengandung pesan”. Pesan yang dimaksudkan tersebut adalah perkataan maupun diluar perkataan.
Mite sering kali dimaknai faktual dalam suatu kelompok masyarakat. Rasa keyakinan tersebut menciptakan suatu aturan yang dilakoni dalam kehidupan masyarakat pemiliknya. Mite biasanya mempengaruhi berbagai aturan yang sering kali dihubungkan dengan realita kehidupan. Banyaknya mite yang menciptakan kearifan lokal sebagai senjata bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Pada akhirnya, masyarakat berkembang sesuai dengan kebijakan yang diciptakan melalui mite tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mite merupakan suatu cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal yang ajaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa. Latar ceritanya terjadinya di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti dikenal sekarang. Dengan demikian, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari mite begitu saja, meskipun kebenaran suatu mite belum tentu memberikan jaminan dan bisa dipertanggungjawabkan.

2)        Legenda
Legenda merupakan cerita yang mencerminkan kehidupan dan kebudayaan masyarakat setempat. Legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadi pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang dikenal. Jadi, dapat dikatakan bahwa legenda memang erat dengan sejarah kehidupan masa lampau meskipun tingkat kebenarannya seringkali tidak bersifat murni. Legenda bersifat semihistoris. Sejalan dengan pendapat Hutomo (1991:64) Legenda merupakan cerita-cerita yang dianggap masyarakat pemiliknya sebagai peristiwa-peristiwa sejarah. Sebagian besar masyarakat  menganggap bahwa legenda adalah sejarah rakyat.
Menurut Danandjaja (2007:50), legenda adalah prosa rakyat yang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia, yang mempunyai kekuatan luar biasa, dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib.
Pada dasarnya, legenda adalah cerita yang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan mite, namun legenda dapat pula digolongkan berdasarkan isi ceritanya. Brunvand (dalam Danandjaja, 2007:67) mengemukakan penggolongan legenda sebagai berikut:
(a)   legenda keagamaan (Religius Legends)
(b)   legenda alam gaib (Supranatural Legends)
(c)   legenda perseorangan (Personal Legends)
(d)   legenda setempat (Local Legends)

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa legenda merupakan suatu cerita yang dianggap terjadi dan pelakunya adalah orang yang terkemuka atau manusia yang memiliki kesaktian dan betul-betul pernah hidup di masa lampau. Sehingga masyarakat mendedikasikan suatu legenda sebagai contoh yang baik maupun hal yang kurang baik bagi generasi-generasi penerus.

3)        Dongeng
Dongeng biasanya diceritakan berdasarkan pengetahuan manusia tentang kejadian yang dianggap benar-benar terjadi. Ahimsa-Putra (2001:77), berpendapat bahwa dongeng merupakan sebuah kisah atau cerita yang lahir dari hasil imajinasi manusia, walaupun unsur-unsur khayalan tersebut berasal dari apa yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan dongeng pada saat sekarang dijadikan sebagai penghibur bagi anak-anak namun tetap berada dalam pengalaman atau pengetahuan manusia tentang kejadian dalam kehidupan.
Dongeng merupakan prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun cerita (Bascom dalam Danandjaja, 2007:83). Dongeng juga mempunyai unsur-unsur yang terdapat dalam mite dan legenda yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Sesuai dengan pendapat tersebut dongeng juga dimasukkan ke dalam objek penelitian. Sama halnya seperti mite dan legenda, dongeng juga dapat dibagi sesuai dengan tujuan ceritanya. Pembagian ini dilakukan berdasarkan pesan dan tujuan cerita itu disampaikan. Pengklasifikasian dongeng  menurut Thompson (dalam Danandjadja, 2007:83) secara garis besar yaitu: (1) dongeng binatang, (2) dongeng biasa, (3) lelucon dan anekdot, dan (4) dongeng berumus.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dongeng merupakan sebuah kisah atau ceritra yang lahir dari hasil imajinasi manusia, walaupun unsur-unsur khayalan tersebut berasal dari apa yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dongeng juga merupakan suatu cerita yang memiliki pesan-pesan dan pelakunya adalah manusia ataupun binatang yang hidup di masa lampau, memiliki kelebihan dan kebaikan yang pada akhir cerita pada umumnya berbuah kebaikan.
Mengenai karakteristik dari ketiga kategori cerita rakyat di atas, Bascom (dalam Sedyawati, 2004:200) meringkaskan karakteristik ketiga cerita rakyat tersebut sebagai berikut.

Bentuk Cerita Rakyat: Prosa Naratif

Bentuk
Dipercayai sebagai
Waktu
Tempat
Sifat
Tokoh Utama
Mite
Fakta
Dahulu,
Lebih awal
Dunia yang lain atau lebih awal
suci
Bukan manusia
Legenda
Fakta
Dahulu, lebih awal
Dunia seperti sekarang
Sekuler atau suci
Manusia
Dongeng
Rekaan
Kapan saja
Di mana saja
Sekuler
Manusia atau bukan manusia

d. Fungsi Sosial Cerita Rakyat
Sebagai salah satu folklor lisan, cerita rakyat mempunyai fungsi-fungsi  yang menjadikannya penting dan sangat menarik untuk diselidiki. Fungsi-fungsi yang dimaksud merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang terdapat kehidupan sosial masyarakat. Sebab, salah satu fungsi kebudayaan yaitu sebagai pengendalian sosial (Manan, 89:16). Cerita rakyat memiliki fungsi-fungsi sosial yang merupakan realitas kehidupan dan bermanfaat sebagai alat untuk mengendalikan kehidupan sosial suatu masyarakat.
Menurut Semi (1984:10-14) cerita rakyat memiliki empat fungsi sosial, yaitu: (1) Menghibur adalah suatu karya sastra yang diciptakan berdasarkan keinginan melahirkan suatu rangkaian berbahasa yang indah dan bunyi yang merdu saja, (2) mendidik adalah suatu karya sastra yang dapat memberikan pelajaran tentang kehidupan, karena sastra mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan seperti yang terdapat dalam agama. Nilai-nilai yang disampaikannya dapat lebih fleksibel. Di dalam sebuah karya sastra yang baik kita akan menemui unsur-unsur dari ilmu filsafat, ilmu kemasyarakatan, (3) mewariskan adalah suatu karya sastra yang dijadikan alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif. Tradisi itu memerlukan alat untuk meneruskannya kepada masyarakat sezaman dan masyarakat yang akan datang, (4) jati diri adalah suatu karya sastra yang menjadikan dirinya sebagai suatu tempat di mana nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya, dipertahankan, dan disebarluaskan, terutama di tengah-tengah kehidupan modern yang ditandai dengan menggebu-gebunya kemajuan sains dan teknologi.
Sebagai sistem yang ada dalam kehidupan masyarakat,  fakta atau realitas tentang pengaruh yang tercipta dari suatu cerita  perlu direalisasikan. Cerita rakyat semestinya memenuhi fungsi-fungsi sosial yang penting dalam masyarakat.  Salah satu cerita rakyat yang berkembang di masyarakat adalah mitos. Menurut Barbour (dalam Esten 1999:10) mitos berfungsi untuk (1) mengembangkan integritas masyrakat, (2) memadu kekuatan kebersamaan untuk solidaritas sosial, (3) indetitas kelompok, dan (4) harmonisasi komunal.
Dundes (dalam Sudikan, 2001:162) menyatakan ada beberapa fungsi sosial cerita rakyat secara umum, yaitu: (a) membantu pendidikan anak muda, (b) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, (c) memberi sangsi sosial agar orang berperilaku baik atau memberi hukuman, (d) sebagai sarana kritik sosial, (e) memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan, dan (f) mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi permainan. Lain halnya dengan pendapat Hamidy (2003: 28),  menyatakan bahwa fungsi sosial cerita rakyat di antaranya sarana pendidikan, harga diri, dan sebagai hiburan atau pelipur lara.
Berkaitan dengan hal di atas, Atmazaki (2007:138) mengemukakan bahwa fungsi sosial sastra lisan meliputi: (1) untuk mengekspresikan gejolak jiwa dan renungannya tentang kehidupan oleh masyarakat purba atau nenek moyang kita dahulu, (2) untuk mengukuhkan solidaritas dan menyegarkan pikiran dan perasaan, (3) digunakan untuk memuji raja, pemimpin, dan orang-orang yang diangggap suci, keramat, dan berwibawa oleh kolektifnya. Menurut Bascom fungsi tersebut ada empat: (1) sebagai sistem proyeksi, (2) sebagai alat pengesahan kebudayaan, (3) sebagai alat pedagogik, dan (4) sebagai alat pemaksa berlakunya norma masyarakat dan pengendalian masyarakat (Pudentia, 2008:73)
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak fungsi sosial cerita rakyat, di antaranya; (1) sebagai sarana hiburan, (2) sebagai sarana pendidikan (3) alat kontrol sosial, (4) pengukuhan solidaritas sosial, (5) identitas kelompok, (6) harmonisasi komunal, (7) pengesahan kebudayaan, dan (8) digunakan sebagai pemujian terhadap raja, pemimpin, dan orang-orang yang dianggap suci, keramat, dan berwibawa oleh kolektifnya.
Semi, Atar. 1984. Anatomi Sastra. Padang: Sridarma.



Rujukan

Atmazaki. 2007. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: UNP Press.
Bunanta, Murti. 1998. Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Danandjaja, James. 2007. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Esten, Mursal. 1999. Kajian Transformasi Budaya. Bandung. Angkasa.
Hamidy, UU. 2003. Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau. Pekanbaru: Unri Press.
Hutomo, Suripan, Sadi. 1991. Mutiara yang Terlupakan. Malang: Dioma.
Ibrahim, Maniyamin. 2009. Konteks Sastra Melayu & Budaya Melayu. Malaysia: Karisma Publications Sdn. Bhd.
Mahayana, Maman S. 2008. Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Orientasi kritik. Jakarta: Bening Publishing.
Propp, V. 1987. Morfologi Cerita Rakyat (terjemahan Noriah Taslim). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Pustaka.
Sedyawati, Edi dkk. 2004. Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa.
Semi, Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: Universitas Negeri Padang Press.


0 komentar:

Posting Komentar