Umpat

0 komentar
beranjak kata
terelak bara yang tak kunjung arang
pada bibir-bibir kering yang mudah terbakar
gelak berkhianat
cibir mengumpat
salam berderuk
hati mengutuk
berkedip mata
terbias cahaya yang tak kunjung padam
hidup di antara kertas
dengang tak ketus
keluai mencuri ayam
beranak ...
bertekuk lutut
tertatih langkah yang tak putus jalan
pada setapak yang bersimpang-simpang
nafas terengah
peluh bersimbah
menginyam malu
darah ke ujung rambut
hantu belau...
pada waktu yang separuh
jelas kerut di kening lebam
menyingau masa yang tak mungkin kembali pulang
menyorot waktu yang tersisa
beraksa tumbang di tengah terik
tak tahan menatap pada geliat
langit tak mau jadi sahabat
air mata jatuh ke dalam hati
manusia mati menahan dendam

Penjahat Tua

0 komentar
kenangan termanis itu terlintas
dalam helaan nafas
kala takutku
si penjahat tua pernah mengalahkan Tuhan
kala melintasi rimba
kala lemahku
si penjahat tua pernah mengacuhkan Tuhan
kala memejam mata
kala risauku
penjahat tua pernah mencurangi Tuhan
kala harus membayar nafas
penjahat tua lemah
berseteru dengan embun
meminta ampun
seolah dada tertusuk duri andaliman
matanya pun berbinar
penjahat tua merengkuhku
dan berkata, "Tuhan menggengam rantai nafas, tapi aku belum kalah. Masih ada kamu, anakku ..."
lalu penjahat tua pun tertidur pulas
kenangan termanis itu terukir

terbaik dalam duapuluhlima tahun terakhir

Tarian Nafas

0 komentar
dia sudah mempunyai segala jawaban
atas setiap pertanyaan yang akan diajukan
dan, kukatakan  ”aku seharusnya, tidak...”
karena tidak semua perihal
harus dicari jalan keluarnya
aku tetap saja maju melangkah dan menjauh melangkahinya..
berikan aku nasehat
wahai, penikmat lakonan dalam kurun waktu
agar aku bisa dilirik
dan takku berjalan jauh lagi
karena aku lebih senang berada disini dan tentu saja akan memberikan giliran pada mereka yang masih mengiringi tarian nafas
agar aku tak berbisik
dengan tanduk diubunku
agar aku tak menghardik
cermin yang memperlihatkan bayangan yang tak terjamah
hanya dengan mengingat kematian
aku bisa tetap hidup
dari tiada tentu kembali tiada
hingga tak ada lagi padang hijau membentang dihalaman kediaman
sebab rumput akan layu dan mati terinjak
oleh berjuta pasang kaki dengan sepatu yang terbuat dari kulit binatang

dan mereka yang masih mengiringi tarian nafas.

Menahan Nafas I

0 komentar
aku sudah terlalu jauh
mengendus di tempat yang bukan seharusnya
aku takkan katakan, ‘ jangan menangis!’
sebab air mata yang keluar tak selalu buruk
memang kita saja yang tak mempunyai pilihan
sebab logika menutup arah dan
mengapa kenyataanmu memaksaku tetap di sini
apa kau bisa menghapus kerutan dikeningku
yang berbanjar saat aku rentan
apa kau bisa menjangkau lubang tenggorakanku
yang ketulangan saat aku menelan ucap para penghardik
hadirlah sebuah dalih dalam ketakutan
tatkala gerak terbatas pilihan
memaksa membungkus jasad dalam kotak-kotak kecil
walaupun sementara, semua tampak nyata
saat tangismu mengikis malam
mengukir tebing curam
aku hanya bisa diam
di derasnya isak
yang sesungguhnya akan menghanyutkan
akupun menanti, pagi
mengintai, dibalik tirai hitam yang tak pernah tersingkap
mencuri cahaya merah sedini mungkin
menjelang tangis berkabung dan senja yang menutup mata
dan kutulis sebait pesan di daun pintu aku terpaku
aku menitip roh dalam hati yang berat melepas cinta ke sisi nafas yang berbeda
aku menitip gelak tawa pada lawakan yang belum disaksikan
aku juga meninggalkan sebentuk raut yang merona
yang sigap menjalankan sebuah permainan hidup.


Tradisi Begawai pada Upacara Pernikahan pada Masayarak Talang Mamak

0 komentar
Pengertian Tradisi
Salah satu aspek  kebudayaan yang harus diperhatikan adalah tradisi. Tradisi yang masih hidup ditengah-tengah masyarakat merupakan warisan dari nenek moyang dan perlu dilestarikan demi  kelangsungan kebudayaan nasional. Setiap manusia dalam satu kelompok mempunyai kebiasaan yang harus dijalankan dan diteruskan dari satu generasi kegenerasi selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rendra (1983:3) yang mengatakan bahwa tradisi yaitu kebiasaan yang turun temurun dalam sebuah masyarakat.
Senada dengan pendapat diatas, Ridwan (1987:2) juga menjelaskan tradisi pada dasarnya berawal dari suatu kebiasaan masyarakat  dalam menjalankan kehidupannya. Tradisi merupakan serangkaian kegiatan yang terus-menerus dilakukan sehingga menjadi suatu ketentuan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Kebiasaan ini mempunyai nilai-nilai yang berpengaruh pada kehidupan, selaras dengan kaidah yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Jelas bahwa kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang  mempunyai sistem nilai, sehingga terus dijalankan oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat  Hamidy  (2004:2) yang menjelaskan bahwa tradisi kehidupan itu biasanya terbentuk setelah nilai-nilai itu diteruskan dan dipelihara paling kurang dalam tiga generasi, sekitar rentangan 75 sampai 100 tahun dan seterusnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Noer (1981:250) juga mengatakan karena manusia hidup telah ribuan tahun, tradisi telah dipupuk dan dikembangkan, pemikiran pun telah dipengaruhi oleh tradisi ataupun mempengaruhi tradisi.
Dengan demikian dapat dibuat postulat bahwa tradisi merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan yang dilakukan secara turun-temurun dan terus-menerus oleh kelompok masyarakat tertentu.

Tradisi Begawai pada Upacara Pernikahan pada Masayarak Talang Mamak

Tradisi Begawai merupakan salah satu bentuk upacara adat yang terdapat pada tradisi masyarakat Talang Mamak. Upacara ini berupa pesta rakyat yang dilaksanakan jika ada acara pernikahan, acara khitanan, atau acara lainnya. Namun ada kalanya acara pernikahan dan bersunat tersebut digabungkan di dalam sebuah upacara. Begawai  yang diadakan belum tentu sama tingkatannya. Ada tiga tingkatan Begawai yang dikenal dalam Masyarakat Talang Mamak, diantaranya:
1.   Begawai gadang (besar), Begawai ini ditandai dengan adanya tiang gelanggang dan diadakan selama 6-7 hari.
2.   Begawai menengah, Begawai ini ditandai dengan mengukus pulut dan diadakan selama 4-5 hari.
3.    Begawai kecil, Begawai ini ditandai dengan masak tambul dan diadakan selama 2-3 hari.
Talang Mamak merupakan bagian dari Masyarakat Melayu Riau. Mereka hidup dan berkembang sesuai dengan tradisi dan adat istiadat yang berlaku. Berbicara mengenai masalah adat Hamidy (2003:77-81) mengungkapkan dalam tradisi melayu Riau paling kurang ada empat macam konsep atau peringatan adat, yaitu:
1.      Adat yang sebenarnya adat, yakni adat yang asli berupa adat, norma, hukum yang datang dari Allah yang berlaku segenap jagad jagad raya ini.
2.      Adat yang diadatkan, yaitu:hukum, norma, atau buah pikiran leluhur manusia yang piawai dan kemudian berperan dalam mengatur lalu lintas kehidupan pergaulan manusia. Merupakan dasar-dasar hokum rancangan leluhur.
3.      Adat yang teradatkan, yakni konvensi masyarakat atau keputusan hasil musyawarah yang kemudian dikokohkan menjadi adat atau aturan. Merupakan abad budi pekerti.
4.      Adat istiadat, yaitu berbagai ketentuan dan prilaku yang sebaiknya dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Adat dalam konteks uraian ini adalah adat yang teradatkan, meliputi segala aturan-aturan yang berlaku secara turun-temurun sesuai dengan perkembangannya dari zaman ke zaman. Beberapa aturan yang berlaku semenjak nenek moyang masih tetap membekas dalam sistem kemasyarakatan sekarang. Salah satu aturan adat yang masih terlihat jelas dalam masyarakat Suku Talang Mamak adalah adat nikah kawin.
Masyarakat melayu Riau mengenal berbagai macam adat di dalam suatu pernikahan.  Berdasarkan adat istiadat yang sering dilakukan oleh Masyarakat Melayu Riau, maka terdapatlah suatu adat pada upacara pernikahan di kalangan masyarakat Talang Mamak di Desa Talang Gedabu yang bernama tradisi Begawai.

Nilai Budaya dalam Tradisi Begawai Masyarakat Talang Mamak
Tiap masyarakat senantiasa mempunyai suatu system nilai agar tiap tingkah laku anggota masyarakat dapat diukur dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamidy (1996:66) yang menjelaskan bahwa setiap perangkat nilai terdiri dari sejumlah norma yangmengatur hubungan social. Dari keadaan demikian nilai telah dipakai untuk membentuk pandangan hidup. Dalam pandangan hidup itu terkandung apa yangdipandang baik, benar, dan adil.
Nilai mempunyai system dan system mempunyai peranan besar dalam kehidupan masyarakat. “tanpa system nilai tidak dapat diatur/diarahkan dengan gerak langkah masyarakat. Tanpa sistem nilai masyarakat akan kehilangan arah dan tidak punya pandangan hidup”. (Hamidy dan Muchtar Ahmad, 1993:41-42).
Demikian halnya dengan system nilai budaya, system nilai budaya juga memunyai peranan di dalam kehidupan masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (1982:25) menjelaskan bahwa system nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar anggota masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam hidup. Pendapat ini merupakan system nilai budaya sebagai nilai pedoman tertinggi bagi tingkah laku manusia yangtingkatnya lebih konkrit seperti aturan-aturan khusus, norma-norma, dan hokum-hukum juga berpedoman kepada system nilai budaya. Notosusanto dalam Rosyidi (1995:174) mengatakan bahwa system nilai budaya merupakan inti kebudayaan. Sebagai intinya ia akan memengaruhi dan menata elemen yangberada pada strukutr permukaan (surface structure) dari kehidupan manusia, yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dari benda-benda sebagai kesatuan materil.
Berdasarkan dua pendapat di atas yang menempatkan system nilai budaya pada posisi yangsentral dalam paling dalam dari kerangka suatu kebudayaan. Sifatnya abstrak dan hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala yang lebih nyata, seperti tingkah laku dan benda-benda materil sebagai hasil dari penaungan konsep-konsep nilai melalui tindakan yang berpola. Berdasarkan uraian tersebut upaya pengungkapan nilai budaya yang terkandung dalam tradisi begawai pada upacara pernikahan masyarakat Talang Mamak, penulis menggunakan teori-teori yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat.
Masyarakat dalam hubungan social tidak dapat hidup sendiri, manusia memerlukan bantuan orang lain dan sebaliknya membantu orang lain. Koentjaraningrat (1994:62) nilai gotong-royong merupakan suatu aktivitas tolong-menolong antar warga masyarakat. Nilai gotong-royong ini dikelompokkan dalam golongan nilai-nilai budaya yangmengenai masalah hakikat hubungan manusia dengan sesamanya. Selanjutnya, Koentjaraningrat mengatakan bahwa demokrasi di dalam masyarakat desa itu sebenarnya adalah suatu demokrasi yang terbatas fungsi dan ruang lingkupnya, karena hanya mengenai kehidupan. Apa yang disebut demokrasi dalam masyarakat perdesaan yaitu mengenai prosedur untuk mengambil keputusan-keputusan dalam rapat yang disebut musyawarah.
Selain nilai gotong-royong dan musyawarah mufakat. Dalam nilai budaya juga terkandung nilai kekeluargaan. Nilai kekeluargaan merupakan dasar aktivitas tolong-menolong dalam suatu kegiatan dalam masyarakat. Aktifitas tolong-menolong antara kaum kerabat (dan beberapa tetangga yang paling dekat untuk menyelanggarakan pesta sunat, pesta perkawinan, dan lain-lain. Adat tolong-menolong antara kaum kerabat seperti itu dilandasi oleh rasa kekeluargaan yang dimiliki masyarakat desa.

Rujukan
Hamidy, UU. 1993. Nilai Suatu Kajian Awal. Pekanbaru: UIR Press.

            . 2003. Jagad Melayu dalam Lintas Budaya di Riau. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.

Haviland, William A. 1985. Antropologi Jilid 1. Alih Bahasa Soekdijo. Jakarta: Erlangga.

Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Grammedia.

Lestari, Yuni Suci. 2007. Skripsi Tinjauan Tradisi Pernikahan Masyarakat Talang Mamak Indragiri Hulu. UNRI: Pekanbaru.

Mahdini. 2003. Sastra Lisan Masyarakat Melayu Banjar Inhil. Pekanbaru: Daulat Riau.


Gaya Bahasa

0 komentar
A. Pengertian Gaya Bahasa

Karya sastra terdiri atas dua jenis sastra (genre), yaitu prosa dan puisi. Biasanya, prosa disebut sebagai karangan bebas, sedangkan puisi disebut karangan terikat. Prosa itu karangan bebas berarti bahwa prosa tidak terikat oleh aturan-aturan ketat. Puisi itu karangan terikat berarti puisi itu terikat oleh aturan-aturan ketat. Akan tetapi, pada waktu sekarang, para penyair berusaha melepaskan diri dari aturan yang ketat itu (Pradopo, 2010:306).
Bahasa dalam suatu karya sastra merupakan sarana imajinasi dan kreativitas pengarang. Makna sebuah karya sastra dapat digali dan ditelusuri melalui bahasa yang digunakannya. Dengan demikian, pemakaian gaya bahasa (juga pemilihan kata) sangat menentukan penyampaian makna suatu karya sastra. Pemakaian gaya bahasa itu meliputi bunyi, rangkaian bunyi, kata, rangkaian kata, frase hingga kalimat yang dipilih dan digunakan dengan seksama.
Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam bertutur dan menulis, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu serta merupakan keseluruhan ciri bahasa dari sekelompok penulis bahasa. Pemanfaatan yang dilakukan penyair terhadap sarana bahasa untuk memperoleh ciri khas dalam karya-karyanya. Dengan demikian, untuk memahami dan menginterpretasi sebuah karya sastra, pengkajian dan penelitian terhadap sarana bahasa yang terdapat pada karya tersebut harus dilakukan dengan maksimal.
Menurut Slametmuljana (dalam Pradopo, 2006:93) gaya bahasa ialah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Majas merupakan peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiah. Menurut Manaf (2008:145) gaya bahasa dan majas adalah unsur pemberdayaan bahasa untuk mendapatkan pilihan kata yang tepat.
Menurut Keraf (dalam Faizah, 2007:40) gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan ciri dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Berdasarkan langsung tidaknya makna, Keraf membagi gaya bahasa menjadi dua macam, yaitu gaya bahasa retoris yang terdiri atas dua puluh satu jenis dan gaya bahasa kiasan yang terdiri atas enam belas jenis gaya bahasa. Sedangkan Pradopo (2006:93) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara menyampaikan pikiran atau perasaan ataupun maksud-maksud lain yang menimbulkan gaya bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan kemampuan dari seorang pengarang dalam mempergunakan ragam bahasa tertentu dalam menulis sebuah karya sastra, dan ragam bahasa tersebut sudah mempunyai pola-pola tertentu dan akan memberi kesan pada pembaca atau pendengar karya itu.
Gaya bahasa didefinisikan sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang secara ikhlas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis. Pembicaraan tentang gaya bahasa bukanlah soal menggaya, melainkan daya guna bahasa. Gaya bahasa ini merupakan kesanggupan menyampaikan pengalaman batin dengan hasil sebesar-besarnya. Kemudian Finoza (2008:127) menyatakan bahwa gaya bahasa atau langgam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara seseorang mengungkapkan maksudnya.
Keraf (1996:124-127) membagi gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yang meliputi:(1) klimaks; (2) antiklimaks; (3) paralelisme; (4) antitesis, dan (5) repetisi (epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis).

B. Macam-macam Gaya Bahasa
Gaya bahasa beraneka ragam macamnya, macam-macam gaya bahasa dapat dilihat berdasarkan: (1) pilihan kata, (2) nada, (3) struktur kalimat, dan (4) berdasarkan langsung tidaknya makna.


1. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu, Gaya bahasa ini terbagi menjadi:
a.        Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya bentuknya yeng lengkap, gaya yang diperluas dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius  atau esei yang memuat subjek-subjek yang penting, semua dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
b.        Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, kolumnis dan sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
c.         Gaya Bahasa Pecakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan-kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.

2. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat didalam sebuah wacana. Seringkali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti surat dari pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan. Dengan latar belakang ini, gaya bahasa dari sudut nada yang terkandung dari sebuah wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah.

a.        Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberikan instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup.

b.        Gaya Bahasa Mulia dan Bertenaga
Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan memperggunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan  kemulyaan.

c.         Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senangn dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah lembut, penuh kasih sayang dan mengandung humor yang sehat.

3. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Menurut Keraf (1996:125-127) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri atas bermacam-macam gaya bahasa. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi:

a.        Klimaks
Gaya bahasa klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya, contoh:
Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.

b.        Antiklimaks
Gaya bahasa antiklimaks adalah gaya bahasa yang merupakan acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Contoh:
Pembangunan lima tahun telah dilancarkan serentak di ibu kota negara, ibu kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa diseluruh Indonesia.

c.         Paraleisme
Adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian  kata-kata  atau  frase-frase  yang  menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Contoh:
Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.

d.        Antitesis
Adalah sebuah gaya bahasa yang mengndung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Contoh:
Ia sering menolak, tapi sekalipun tak pernah melukai hati.

e.         Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Contoh:
Atau maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam?
Sedangkan Manaf (2008:153) membagi gaya bahasa berdasarkan struktur linguistik, khususnya struktur sintaksis atau yang tergolong ke dalam majas nonperbandingan. Macam-macam gaya bahasa tersebut berjumlah 25 jenis, yaitu:(1) klimaks, (2) antiklimaks, (3) repetisi, (4) paralelisme, (5) antitesis, (6) aliterasi, (7) anastrof, (8) apofasis, (9) apostrof, (10) asindenton, (11) kiasmus, (12) elipsis, (13) eufemisme, (14) histeron porteron, (15) ironi, (16) litotes, (17) innuendo, (18) perifrasis, (19) pleonasme atau tautologi, (20) prolepsis, (21) pertanyaan retoris, (22) silepsis, dan (23) zeugma.

4. Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Gaya bahasa berdasarkan makna diukur berdasarkan langsung tidaknya makna, yitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang gunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif  atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, maka acuan itu dinaggap memiliki gaya sebagai yang dimaksud disini.

Gaya Bahasa Retoris
Menurut Keraf (1996:130-136) bahasa retoris terdiri atas bermacam-macam gaya bahasa. Bahasa retoris meliputi:

1)        Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadangn dalam prosa, untuk perhiasan atau penekanan. Misalnya:
Takut titik lalu tumpah

2)        Asonasi
Asonasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan. Misalnya:
Ini muka penuh luka siapa punya

3)        Anostrof
Anostrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Misalnya:
Pergilah ia meninggalkan kami, keheran kami melihat perangainya.

4)        Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga pretesio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Misal:
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

5)        Apostrof
Adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tideak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Misalnya:
Hai kamu dewa-dewa yang berada disurga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.

6)        Asidenton
Adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya:
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

7)        Polisidenton
Polisidenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan dengan kata-kata sambung. Misalnya:
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

8)        Kiasmus
Adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa  atau klausa lainnya. Misal:
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha ini.

9)        Elipsisi
Adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi ataun ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau            pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Misalnya:
Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tapi psikis...

10)    Eufemismus
Adalah gaya bahasa, semacam acuan yangberupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang , atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mnugkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya:
Ayahnya sudah tak ada ditengah-tengah mereka (=mati)

11)    Litotes
Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal yang dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. Misalnya:
Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.

12)    Histeron Proteron
Adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian  pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton. Misalnya:
Kereta melaju dengan cepat didepan kuda yang menariknya.

13)    Pleonasme dan Tautologi
Pada adasarnya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang  mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh. Sebaliknya, acuan itu disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. Misalnya:
(1)   Saya telah mendengar hal itu dengan saya sendiri (pleonasme)
(2)     Globe itu bundar bentuknya

14)    Perifrasis
Sebenarnya perifrasis adalah gaya hidup yang mirip dengan pleonasme, yanitu mempergunakan kata lebih dari yang dipelukan. Perbedaannnya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Misalnya:
Ia  telah beristirahat dengan damai (= mati, atau meninggal)

15)    Prolepsis
Adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi, Misalnya:
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.

16)    Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai  efek yang yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu  jawaban. Misalnya:
Rakyat yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi Negara ini?

17)    Silepsis dan Zeugma
Silepsis dan Zeugma adalah gaya dimana orang mepergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar. Misalnya:
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

18)    Koreksio dan Epanortesis
Adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Misalnya:
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

19)    Hiperbol
Adalah semacam gaya bahsa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuaatu hal. Misalnya:
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak aku.

20)    Oksimoron
Adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untukmencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan sebagai gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih  padat dan tajam dari paradoknya. Misalnya:
Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar.

4. Gaya bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu denga sesuatu hal yang lain, berarti mencoba cirri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut.

a.        Persamaan atau Simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud perbandingan yang bersifat eksplisit adalah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukan kesamaan itu, yaitu kata-kata :seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya. Contoohnya adalah sebagai berikut:Kikirnya seperti kepiting batu.

b.        Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dual hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, bauah hati, cidera mata, dan sabagainya.

c.         Alegori, Parabel, dan Fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah siaft-sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Parabel  (Parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. Fabel adalah suatu  metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, dimana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidal berakal seolah-olah sebagai manusia.

d.        Personifikasi atau prosopopoeia
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Contohnya:Angin yang meraung ditengah malam yang gelap itu menambah lagi kekuatan kami.

e.         Alusi
Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaaan antara orang, tempat atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implicit kepada peristiwa-peristiwa,tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau karya-karya asatra  yang terkenal.

f.         Eponim
Eponim adalah suatu gaya diman seseorang  yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama iotu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya:Herkules dipakai untuk menyatakan sifat kekuatan.

g.        Epitet
Epitet (epiteta) adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau cirri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Misalnya:Lonceng pagi untuk ayam jantan.

h.        Sinekdoke
Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto atau ) mempergunakan keeluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
Misalnya:Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3-4

i.          Metonimia
Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang memepergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.

j.          Antonomasia
Antonomasia adalah merupaakan sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri.
Misalnya:Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.

k.        Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa dimana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata lain. Misalnya:Ia berbaring diatas bantal yang gelisah ( yang gelisah aalah manusianya, bukan bantalnya).

l.          Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Sebagai bahan kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang mengatakan sesuatu dengan atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkai kata-katanya. Misalnnya:Saya tahu  Anda adalah seorang gadis yang paling cantik didunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat.
Kadang-kadang dipergunakan juga istilah lain, yaitu sinisme yang diartikan sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terdapat keikhlasan dan ketulusan hati. Misalnya :Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebiksanaan akan lenyap bersamamu.!
Sarkasme merupakan acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme.
Misalnya:Lihat sang raksasa itu (maksudnya sang cebol)

m.      Satire
Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Tujuan utamanya adalah agar  diadakan perbaikan secara etis maupun etetis.

n.        Inuendo
Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering  tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu:Misalnya:Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.

o.        Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kota dengan makna kebalikannya, yang biasa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat dn sebagainya. Contohnya adalah sebagai berikut: Engkau memang orang yang mulia dan terhormat!

p.        Pun atau Paronomasia
Pun atau Paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Contohnya adalah sebgai berikut:“Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet”.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara atau teknik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam bentuk lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahas yang khas sehingga dapat memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis serta dapat menghasilkan suatu pengertian yang jelas dan menarik bagi para pembaca.

Rujukan
Aminudddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Faizah, Hasnah, A.R. 2009. Bahasa Indonesia. Pekanbaru: Cendikia Insani.
Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Keraf, Gorys. 1996. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Manaf, Ngusman Abdul. 2008. Semantik Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Offset.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2005.  Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______, 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. 2004. Teori Sastra. Pekanbaru: Labor Bahasa, sastra, dan Jurnalistik Universitas Riau.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Kutha Ratna, Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.