Gaya Bahasa

A. Pengertian Gaya Bahasa

Karya sastra terdiri atas dua jenis sastra (genre), yaitu prosa dan puisi. Biasanya, prosa disebut sebagai karangan bebas, sedangkan puisi disebut karangan terikat. Prosa itu karangan bebas berarti bahwa prosa tidak terikat oleh aturan-aturan ketat. Puisi itu karangan terikat berarti puisi itu terikat oleh aturan-aturan ketat. Akan tetapi, pada waktu sekarang, para penyair berusaha melepaskan diri dari aturan yang ketat itu (Pradopo, 2010:306).
Bahasa dalam suatu karya sastra merupakan sarana imajinasi dan kreativitas pengarang. Makna sebuah karya sastra dapat digali dan ditelusuri melalui bahasa yang digunakannya. Dengan demikian, pemakaian gaya bahasa (juga pemilihan kata) sangat menentukan penyampaian makna suatu karya sastra. Pemakaian gaya bahasa itu meliputi bunyi, rangkaian bunyi, kata, rangkaian kata, frase hingga kalimat yang dipilih dan digunakan dengan seksama.
Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam bertutur dan menulis, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu serta merupakan keseluruhan ciri bahasa dari sekelompok penulis bahasa. Pemanfaatan yang dilakukan penyair terhadap sarana bahasa untuk memperoleh ciri khas dalam karya-karyanya. Dengan demikian, untuk memahami dan menginterpretasi sebuah karya sastra, pengkajian dan penelitian terhadap sarana bahasa yang terdapat pada karya tersebut harus dilakukan dengan maksimal.
Menurut Slametmuljana (dalam Pradopo, 2006:93) gaya bahasa ialah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Majas merupakan peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiah. Menurut Manaf (2008:145) gaya bahasa dan majas adalah unsur pemberdayaan bahasa untuk mendapatkan pilihan kata yang tepat.
Menurut Keraf (dalam Faizah, 2007:40) gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan ciri dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Berdasarkan langsung tidaknya makna, Keraf membagi gaya bahasa menjadi dua macam, yaitu gaya bahasa retoris yang terdiri atas dua puluh satu jenis dan gaya bahasa kiasan yang terdiri atas enam belas jenis gaya bahasa. Sedangkan Pradopo (2006:93) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara menyampaikan pikiran atau perasaan ataupun maksud-maksud lain yang menimbulkan gaya bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan kemampuan dari seorang pengarang dalam mempergunakan ragam bahasa tertentu dalam menulis sebuah karya sastra, dan ragam bahasa tersebut sudah mempunyai pola-pola tertentu dan akan memberi kesan pada pembaca atau pendengar karya itu.
Gaya bahasa didefinisikan sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang secara ikhlas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis. Pembicaraan tentang gaya bahasa bukanlah soal menggaya, melainkan daya guna bahasa. Gaya bahasa ini merupakan kesanggupan menyampaikan pengalaman batin dengan hasil sebesar-besarnya. Kemudian Finoza (2008:127) menyatakan bahwa gaya bahasa atau langgam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara seseorang mengungkapkan maksudnya.
Keraf (1996:124-127) membagi gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yang meliputi:(1) klimaks; (2) antiklimaks; (3) paralelisme; (4) antitesis, dan (5) repetisi (epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis).

B. Macam-macam Gaya Bahasa
Gaya bahasa beraneka ragam macamnya, macam-macam gaya bahasa dapat dilihat berdasarkan: (1) pilihan kata, (2) nada, (3) struktur kalimat, dan (4) berdasarkan langsung tidaknya makna.


1. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu, Gaya bahasa ini terbagi menjadi:
a.        Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya bentuknya yeng lengkap, gaya yang diperluas dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius  atau esei yang memuat subjek-subjek yang penting, semua dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
b.        Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, kolumnis dan sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
c.         Gaya Bahasa Pecakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan-kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.

2. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat didalam sebuah wacana. Seringkali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti surat dari pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan. Dengan latar belakang ini, gaya bahasa dari sudut nada yang terkandung dari sebuah wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah.

a.        Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberikan instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup.

b.        Gaya Bahasa Mulia dan Bertenaga
Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan memperggunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan  kemulyaan.

c.         Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senangn dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah lembut, penuh kasih sayang dan mengandung humor yang sehat.

3. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Menurut Keraf (1996:125-127) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri atas bermacam-macam gaya bahasa. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi:

a.        Klimaks
Gaya bahasa klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya, contoh:
Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.

b.        Antiklimaks
Gaya bahasa antiklimaks adalah gaya bahasa yang merupakan acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Contoh:
Pembangunan lima tahun telah dilancarkan serentak di ibu kota negara, ibu kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa diseluruh Indonesia.

c.         Paraleisme
Adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian  kata-kata  atau  frase-frase  yang  menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Contoh:
Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.

d.        Antitesis
Adalah sebuah gaya bahasa yang mengndung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Contoh:
Ia sering menolak, tapi sekalipun tak pernah melukai hati.

e.         Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Contoh:
Atau maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam?
Sedangkan Manaf (2008:153) membagi gaya bahasa berdasarkan struktur linguistik, khususnya struktur sintaksis atau yang tergolong ke dalam majas nonperbandingan. Macam-macam gaya bahasa tersebut berjumlah 25 jenis, yaitu:(1) klimaks, (2) antiklimaks, (3) repetisi, (4) paralelisme, (5) antitesis, (6) aliterasi, (7) anastrof, (8) apofasis, (9) apostrof, (10) asindenton, (11) kiasmus, (12) elipsis, (13) eufemisme, (14) histeron porteron, (15) ironi, (16) litotes, (17) innuendo, (18) perifrasis, (19) pleonasme atau tautologi, (20) prolepsis, (21) pertanyaan retoris, (22) silepsis, dan (23) zeugma.

4. Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Gaya bahasa berdasarkan makna diukur berdasarkan langsung tidaknya makna, yitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang gunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif  atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, maka acuan itu dinaggap memiliki gaya sebagai yang dimaksud disini.

Gaya Bahasa Retoris
Menurut Keraf (1996:130-136) bahasa retoris terdiri atas bermacam-macam gaya bahasa. Bahasa retoris meliputi:

1)        Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadangn dalam prosa, untuk perhiasan atau penekanan. Misalnya:
Takut titik lalu tumpah

2)        Asonasi
Asonasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan. Misalnya:
Ini muka penuh luka siapa punya

3)        Anostrof
Anostrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Misalnya:
Pergilah ia meninggalkan kami, keheran kami melihat perangainya.

4)        Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga pretesio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Misal:
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

5)        Apostrof
Adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tideak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Misalnya:
Hai kamu dewa-dewa yang berada disurga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.

6)        Asidenton
Adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya:
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

7)        Polisidenton
Polisidenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan dengan kata-kata sambung. Misalnya:
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

8)        Kiasmus
Adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa  atau klausa lainnya. Misal:
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha ini.

9)        Elipsisi
Adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi ataun ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau            pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Misalnya:
Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tapi psikis...

10)    Eufemismus
Adalah gaya bahasa, semacam acuan yangberupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang , atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mnugkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya:
Ayahnya sudah tak ada ditengah-tengah mereka (=mati)

11)    Litotes
Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal yang dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. Misalnya:
Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.

12)    Histeron Proteron
Adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian  pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton. Misalnya:
Kereta melaju dengan cepat didepan kuda yang menariknya.

13)    Pleonasme dan Tautologi
Pada adasarnya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang  mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh. Sebaliknya, acuan itu disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. Misalnya:
(1)   Saya telah mendengar hal itu dengan saya sendiri (pleonasme)
(2)     Globe itu bundar bentuknya

14)    Perifrasis
Sebenarnya perifrasis adalah gaya hidup yang mirip dengan pleonasme, yanitu mempergunakan kata lebih dari yang dipelukan. Perbedaannnya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Misalnya:
Ia  telah beristirahat dengan damai (= mati, atau meninggal)

15)    Prolepsis
Adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi, Misalnya:
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.

16)    Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai  efek yang yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu  jawaban. Misalnya:
Rakyat yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi Negara ini?

17)    Silepsis dan Zeugma
Silepsis dan Zeugma adalah gaya dimana orang mepergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar. Misalnya:
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

18)    Koreksio dan Epanortesis
Adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Misalnya:
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

19)    Hiperbol
Adalah semacam gaya bahsa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuaatu hal. Misalnya:
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak aku.

20)    Oksimoron
Adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untukmencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan sebagai gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih  padat dan tajam dari paradoknya. Misalnya:
Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar.

4. Gaya bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu denga sesuatu hal yang lain, berarti mencoba cirri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut.

a.        Persamaan atau Simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud perbandingan yang bersifat eksplisit adalah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukan kesamaan itu, yaitu kata-kata :seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya. Contoohnya adalah sebagai berikut:Kikirnya seperti kepiting batu.

b.        Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dual hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, bauah hati, cidera mata, dan sabagainya.

c.         Alegori, Parabel, dan Fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah siaft-sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Parabel  (Parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. Fabel adalah suatu  metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, dimana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidal berakal seolah-olah sebagai manusia.

d.        Personifikasi atau prosopopoeia
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Contohnya:Angin yang meraung ditengah malam yang gelap itu menambah lagi kekuatan kami.

e.         Alusi
Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaaan antara orang, tempat atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implicit kepada peristiwa-peristiwa,tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau karya-karya asatra  yang terkenal.

f.         Eponim
Eponim adalah suatu gaya diman seseorang  yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama iotu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya:Herkules dipakai untuk menyatakan sifat kekuatan.

g.        Epitet
Epitet (epiteta) adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau cirri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Misalnya:Lonceng pagi untuk ayam jantan.

h.        Sinekdoke
Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto atau ) mempergunakan keeluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
Misalnya:Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3-4

i.          Metonimia
Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang memepergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.

j.          Antonomasia
Antonomasia adalah merupaakan sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri.
Misalnya:Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.

k.        Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa dimana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata lain. Misalnya:Ia berbaring diatas bantal yang gelisah ( yang gelisah aalah manusianya, bukan bantalnya).

l.          Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Sebagai bahan kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang mengatakan sesuatu dengan atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkai kata-katanya. Misalnnya:Saya tahu  Anda adalah seorang gadis yang paling cantik didunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat.
Kadang-kadang dipergunakan juga istilah lain, yaitu sinisme yang diartikan sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terdapat keikhlasan dan ketulusan hati. Misalnya :Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebiksanaan akan lenyap bersamamu.!
Sarkasme merupakan acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme.
Misalnya:Lihat sang raksasa itu (maksudnya sang cebol)

m.      Satire
Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Tujuan utamanya adalah agar  diadakan perbaikan secara etis maupun etetis.

n.        Inuendo
Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering  tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu:Misalnya:Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.

o.        Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kota dengan makna kebalikannya, yang biasa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat dn sebagainya. Contohnya adalah sebagai berikut: Engkau memang orang yang mulia dan terhormat!

p.        Pun atau Paronomasia
Pun atau Paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Contohnya adalah sebgai berikut:“Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet”.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara atau teknik mengungkapkan pikiran dan perasan dalam bentuk lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahas yang khas sehingga dapat memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis serta dapat menghasilkan suatu pengertian yang jelas dan menarik bagi para pembaca.

Rujukan
Aminudddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Faizah, Hasnah, A.R. 2009. Bahasa Indonesia. Pekanbaru: Cendikia Insani.
Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Keraf, Gorys. 1996. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Manaf, Ngusman Abdul. 2008. Semantik Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Offset.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2005.  Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______, 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. 2004. Teori Sastra. Pekanbaru: Labor Bahasa, sastra, dan Jurnalistik Universitas Riau.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Kutha Ratna, Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.


0 komentar:

Posting Komentar